♪♫ Ⱳᴱᴸᴄɷмɚ Ѽɴ ɱɣ ßᴌ♥Ǥ ♫♪

Wink°¨¨°º(*)(_.·´¯`·«¤° ( ; °º¤ø,¸¸,ø¤º°`°º¤ø,¸ ♪♫ Ⱳᴱᴸᴄɷмɚ Ѽɴ ɱɣ ßᴌ♥Ǥ ♫♪ °º¤ø,¸¸,ø¤º°`°º¤ø ; °¤»·´¯`·._)(*)°¨¨°ºWink
,.-~*'¨¯¨'*·~-.¸-(_`·.¸¸.·´´¯`··._.·._|.<(+_+)>.|_. ^^ My page is Nice ^^ ._|.<(+_+)>.|_.`·.¸¸.·´´¯`··._.· _)-,.-~*'¨¯¨'*·~-.¸

Selasa, 06 Desember 2011

Makalah "Berperilaku Terpuji"


KATA PENGANTAR
Pertama-tama perkenankanlah kami selaku penyusun makalah ini mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan judul Perilaku Sifat Terpuji.
Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memahami aspek pendidikan agama islam terutama untuk perilaku sifat terpuji. Dengan mempelajari isi dari makalah ini diharapkan generasi muda bangsa mampu menjadi islam yang sesungguhnya, saleh, beriman kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ucapan terima kasih dan puji syukur kami sampaikan kepada Allah dan semua pihak yang telah membantu kelancaran, memberikan masukan serta ide-ide untuk menyusun makalah ini.
Kami selaku penyusun telah berusaha sebaik mungkin untuk menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila terdapat kekurangan maupun kesalahan. Oleh karena itu kami memohon saran serta komentar yang dapat kami jadikan motivasi untuk menyempurnakan pedoman dimasa yang akan datang.


Magetan, 22 Juli 2011


Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………….2
DAFTAR ISI……………………………………………………………….……….3
BAB  I      : PENDAHULUAN
A. Latar  Belakang………………………………………………………..4
B. Rumusan  Masalah…………………………………………………...5
C. Tujuan………………………………………………………………………5
D. Manfaat……………………………………………………………………5
BAB  II    : PEMBAHASAN
Adil……………………………………………………………………………..6-8
Ridho…………………………………………………………………………..8-9
Rela Berkorban……………………………………………………………10-11
Sabar…………………………………………………………………………..11-12
Gigih……………………………………………………………………………12
Berinisiatif…………………………………………………………………..13
Tawadhu……………………………………………………………………..13-14
Taat…………………………………………………………………………….14-15
Amal Sholeh………………………………………………………………..15-16
Tasamud…………………………………………………………………….16
Husnuzan…………………………………………………………………..16-17
BAB III    : PENUTUP
A.        Kesimpulan…………………………………………………………..18
B.        Saran…………………………………………………………………..18
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………...19

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan ” Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan.
Pengertian akhlak adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak .Jadi pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengeri benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata – mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.
Dengan demikian memahami akhlak adalah masalah fundamental dalam Islam. Namun sebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akhlak. Jika seseorang sudah memahami akhlak dan menghasilkan kebiasaan hidup dengan baik, yakni pembuatan itu selalu diulang – ulang dengan kecenderungan hati (sadar). Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana yang cantik dan mana yang buruk.
A.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan latar belakang dari permasalahan sebagai berikut :
1. Apa saja macam-macam dari akhlak (perilaku) terpuji ?
2. Apa sumber hokum islam dari akhlak (perilaku) terpuji ?
3.  Apa saja contoh dan cara menumbuhkan dari macam-macam akhlak (perilaku) terpuji ?
B.    Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1.Sebagai bentuk penyelesaian tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2.Untuk menjelaskan macam-macam akhlak terpuji yang dianjurkan dan di ridhoi Allah SWT serta penerapannya di kehidupan sehari-hari.
3.Sarana informasi tentang apa, bagaimana penerapan dan contoh dari akhlak terpuji.
D. Manfaat
*    Penyusun berharap makalah ini mampu menambah wawasan pembaca mengenai akhlak terpuji yang di ridhoi Allah SWT dan Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang mampu menambah iman para pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
BERPERILAKU TERPUJI
1.  ADIL
1.   A. Pengertian Adil
        Kata adil sering disinonimkan dengan kata Al-Musawah (persamaan) dan Al-Qist (moderat) dan kata adil dilawankan dengan kata dzalim. Prinsip ini merupakan akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam syari’at islam, sehingga wajar kalau tuntutan dan aturan agama semuanya dibangun di atas dasar keadilan dan seluruh lapisan manusia diperintah untuk berlaku acil.
            Adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniyaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang di takuti kecuali terhadap Allah SWT saja.
Allah SWT berfirman :
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia[361] Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”(Q.S Al-Maidah : 8)
[361] Maksudnya: orang yang tergugat atau yang terdakwa.
            Islam memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia. Yaitu keadilan seorang muslim terhadap orang yang dicintai, dan keadilan seorang muslim terhadap orang yang dibenci. Sehingga perasaan cinta itu tidak bersekongkol dengan kebatilan, dan perasaan benci itu tidak mencegah dia berbuat adil (insaf) dan memberikan kebenaran kepada yang berhak.
Artinya :
“Dan di antara orang-orang yang kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.”(Q.S. Al- A’raf : 181)
1. B. Contoh Perilaku Adil
*      melaksanakan tugas sesuai fungsi dan kedudukannya.
*      menghukum orang yang bersalah melakukan tindak pidana.
*      memberikan hak orang lain sesuai dengan haknya tanpa mengurngi sedikitpun.
1. C. Cara Menumbuhkan Perilaku Adil
a.      Menjauhi dari sikap egois ketika menentukan dua perkara.
b.      Mendahulukan kebaikan daripada kejelekan orang.
c.       Bersikap objektif jika melihat dua perkara yang berbeda.
Dalil Tentang Adil
Artinya:
7. “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).”
8. “Supaya kamu jangan melampaui batas neraca itu.”
9. “Dan tegakkanlah kesetimbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman : 7-9)

Dan Allah ahkamul hakimin memerintah untuk berlaku adil secara mutlak,
Artinya :
 “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu Berlaku adil, Kendatipun ia adalah kerabat(mu)[519], dan penuhilah janji Allah[520]. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. (QS. Al-An’am : 152)
[519] Maksudnya mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan Kerabat sendiri.
[520] Maksudnya penuhilah segala perintah-perintah-Nya.
Dan Allah memuji orang-orang yang berlaku adil, yang di anjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian perlu dilakukan oleh seorang muslim.
 
2. RHIDO
*    Macam-macam Ridho :
*   Ridho kepada Allah.
*   Ridho kepada takdir Allah.
*   Ridho kepada orang tua.
*   Ridho kepada UU Negara.
2. A. Pengertian Ridho
            Kata ridho berasal dari bahasa yaitu kata rodiya yang berarti senang, suka, rela. Ridho merupakan sifat yang terpuji yang harus dimiliki manusia. Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT ridho terhadap kebaikan hambanya.
Ridho amenurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Dan bisa diartikan Ridho adalah nuansa hati kita dalam merespon semua pemberian-Nya yang setiap saat selalu kita rasakan. Pengertian ridho juga ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah SWT baik berupa peraturan (hukum) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah SWT.

Allah SWT berfirman :
Artinya :
“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal didalamnya selama-lamanya; ridho Allah terhadap-Nya[475]. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS Al-Maidah : 119)
 [457] Maksudnya: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka.
            Jadi ridho adalah perilaku terpuji menerima dengan senang apa yang telah diberikan Allah SWT, berupa ketentuan yang di berikan kepada manusia. Dalam kehidupan seseorang ada beberapa hal yang harus menampilkan ridho, minimal empat macam berikut ini :
A.      Ridho terhadap perintah dan larangan Allah.
B.      Ridho terhadap takdir Allah.
C.      Ridho terhadap perintah orang tua.
D.     Ridho terhadap UU Negara.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu ridho dan sabar. Ridha merupakan keutamaan.
*      Perbedaaan sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan menghengkangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharapkan berlalunya musibah.
*      Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima takdir Allah SWT.

*     Cara menumbuhkan perilaku Ridho :
*      Apabila tertimpa musibah, anggap saja itu adalah coban yang Allah berikan.
*      Mentaati perintah orang tua sekecil apapun.
*      Mentaati peraturan yang di atur oleh pemerintah demi keselamatan masyarakatnya.
*       Menerima semu nikmat yang Allah berikan.


3. RELA BERKORBAN
3. A. Pengertian Rela Berkorban
            Rela berarti bersedia dengan ikhlas hati, tidak mengharapkan imbalan atau dengan kemauan sendiri. Berkorban berarti memiliki sesuatu yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban dalam kehidupan masyarakat berarti bersedia dengan ikhlas memberi sesuatu ( tenaga, harta atau pemikiran)
Untuk kepentingan orang lain atau masyarakat. Walaupun dengan berkorban akan menimbulkan cobaan penderitaan bagi dirinya sendiri.
3. B. Jenis-jenis Rela Berkorban
*      Rela berkorban dalam lingkungan keluarga.
*      Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah.
*      Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan masyarakat.
*      Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. C. Dalil Tentang Rela Berkorban  
Artinya :
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya ! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi  sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”                (QS Al-Hujurat : 9)
3. D. Contoh Perilaku Rela Berkorban
*      Keikhlasan orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya.
*      Pemberian dari siswa berupa sumbangan pohon, tanaman dan bunga untuk halaman sekolah.
*      Warga masyarakat bergotong royong meperbaiki jembatan yang rusak karena longsor.
*      Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk pembangunan irigasi dengan memperoleh penggantian yang layak.
*   Cara menumbuhkan sifat rela berkorban :
a.      Selalu peduli dan memperhatikan kepentingan umum, bangsa dan Negara selain kepentingan pribadi.
b.      Gemar memberikan pertolongan kepada sesama.
c.        Penyantun dan penyayang terhadap orang lain atau lingkungan.
d.       Menjauhi sifat angkuh, egois hedonis dan matrialis.

4. SABAR
            Menurut sebagian ulama’ sabar adalah sama dengan tabah. Tabah artinya menahan diri untuk tidak melakukan hal hal yang bertentangan hukum islam, baik dalam kelapangan  maupun kesempitan, serta mampu mengendalikan nafsu yang dapat menggoncangan iman.
Imam Al-ghozali, mengumpamakan tiga unsur kesabaran seperti sebatang pohon, ilmu sebagai batangnya, hal sebagai cabangnya, dan amal sebagai buahnya.
*    Rasulullah SAW membagi kesabaran menjadi tiga macam yaitu :
1.      Sabar dalam menghadapi segala musibah.
2.      Sabar dalam mematuhi perintah Allah SWT.
3.      Sabar dalam menahan diri untuk tidak melaksanakan maksiat.
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Q.S. Al-Baqarah : 153)
[99] Ada pula yang mengartikan: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.

*   Hikmah Sabar :
1.      Sabar merupakan akhlak terpuji.
2.      Orang sabar akan mendapat kemenangan.
3.      Allah akan melimpahkan karunia-Nya berupa kemudahan segala urusan di dunia maupun akhirat.
5.GIGIH
Setiap orang diharuskan untuk bekerja keras. Dengan usaha keras inisiativ dan keikhlsannya diharap manusia bias meningkatkan taraf hidupnya lebih baik. Maka manusia tidak boleh pesimis, Allah berfirman :
Artinya :
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”( Ar-Ra’d : 11)
[767] Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
[768] Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.
Agar keinginannya tercapai, maka setiap manusia harus memiliki cara sebagaimana dalam firman Allah dalam surat Jumua : 10
Artinya:
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”(Q.S Al-Jumu’ah : 10)

6. BERINISIATIF
Setiap manusia pasti memiliki perbedaan, baik secara fisik maupun mental. Oleh karena itu kita harus menghargainya sebagai dasar untuk mencapai tujuan hidup, yaitu kemakmuran dan kebahagiaan dunia akhirat.
Berinisiatif berarti kemampuan berprasangka dalam kegiatan yang positif dan menghindari sikap terburu buru dalam bertindak di situasi yang sulit, bertindak dengan akal fikiran.
*   Cara menumbuhkan sikap inisiatif :
a.      Beramal atau bekerja sesuai keadaan, kelakuan, dan bakat.
b.      Tidak ikut ikutan tanpa dasar ilmu.
c.       Selalu menggunakan akal dalam bertindak.
d.      Bekerja keras dalam menggapai cita-cita.
e.      Berusaha menjadi pionir dan kreatif mencari ide-ide.
7. TAWADHU
Tawadhu adalah rendah hati atau merendahkan diri tanpa menghinakan dan meremehkan harga dirinya. Lawan dari Tawadhu adalah sombong.
Sebagai salah satu akhlak terpuji, tawadhu dapat menimbulkan rasa persamaan, menghormati, dan menghargai orang lain. Sikap toleransi, sikap solidaritas, dan cinta kepada keadilan serta siap menerima kritik dan bersikap demokratis.
*   Upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan sikap tawadhu pada diri manusia adalah :
1.      Menumbuhkan sikap kesadaran dalam diri manusia agar tidak bersikap sombong. Firman Allah SWT :

Artinya :
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Esa itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang – orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (salam).”(Q.S Al-Furqan : 63)

2.      Menumbuhkan dan menanamkan kesadaran tentang proses penciptaan manusia. Sebagai makhluk Allah manusia, mempunyai hak dan kewajiban. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya :
“Dengan menyombongkan diri terhadap Al Quran itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.”                         (Q.S Al Mukmin : 67)
Manusia di hadapan Allah adalah makhluk yang tidak berdaya apa-apa. Oleh karena itu, tidak ada artinya jika kita sombong karena sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa.

*   Sikap Tawadhu mempunyai keluhuran dan manfaat yang sangat besar. Manfaat itu antara lain :
a.      Menghindari manusia dari sifat sombong.
b.      Membuat orang bertambah mulia.
c.       Akan di tinggikan derajatnya oleh Allah SWT.
8. TAAT
Kata taat berarti senantiasa menurut. Arti taat kepada Allah menurut istilah adalah upaya menggantungkan diri atau menyerahkan diri kepada Allah dengan ikhlas menaati peraturanyya dan menjauhi larangannya. Firman Allah :
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa` : 59)
Artinya :
“Katakanlah (Muhammad), “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”.”(Ali `Imran : 32)
Ayat ayat diatas kita sebagai manusia yang beriman harus taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang yang taat pada Allah disebut Takwa.
*   Ciri-ciri takwa adalah :
a.      Beriman kepada Allah.
b.      Mendirikan Sholat.
c.       Menafkahkan sebagaian rezeki dari Allah.
d.      Beriman pada kitab.
e.      Beriman kepada adanya kehidupan akhirat.

Demikian iman yang kita yakini sempurna setelah dibuktikan dengan amal shaleh. Oleh karena itu, iman bukannya hanya sekedar mempercayai tapi juga disertai dengan amal.
9. AMAL SHOLEH
Artinya melakukan suatu hal yang positif secara kreatif. Amal diartikan sebagai proses. Amal sholeh diartikan sebagai proses yang baik sehingga menghasilkan hasil yang baik. Jadi jika memperbanyak amal sholeh berarti memperbanyak jalan untuk mencapai hal yang halal. Pada prinsipnya ukuran keshalehan menurut Al-Qur’an dan sunnah Rosul sebagai berikut :
a.      Niat yang tulus
Dalam Islam, niat menjadi sakah satu faktor tertentu apakah amal seseorang dikatakan shaleh atu bukan.
b.      Ada manfaatnya
Islam mengajarkan bahwa perbuatan yang tak mengandung manfaat tidak boleh di lakukan karena sia-sia.
c.       Prosesnya benar
Maksudnya proses dari perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan norma norma agama.

*   Bentuk amal sholeh :
1.      Bentuk amal sholeh yaitu secara illahiyah dan secara sosial. Kesalehan harus mempunyai dua dimensi sekaligus jika dimata Allah sholeh maka dimata manusia juga mempunyai pengakuan sama.
2.       Cara memelihara kesholehan adalah bergaul dengan orang orang sholeh.
3.      Amal sholeh dapat menolong dalam kesulitan.
10. TASAMUD
Sikap tasamud adalah satu sifat tenggang rasa terhadap pendiriran atau pendapat orang lain, bahkan pertentangan dengan pendirian sendiri.
 Toleransi yang dibutuhkan adalah toleransi yang bermaksud untuk kebaikan dan kemaslahatan yang bermanfaat bagi hidup.
*   Manfaat toleransi :
a.      Dapat memperkokoh persatuan dan kerukunan.
b.      Saling menghargai sesama derajat manusia.
c.       Untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap orang lain.
d.      Menjaga norma agama.
e.      Mengikis sifat egois.
f.        Menumbuhkan sifat tanggung jawab.
11. HUSNUZAN
11. A. Pengertian Husnuzan
Husnuzan atau secara harfiah berarti berbaik sangka. Berbaik sangka akan membuat hati menjadi tenang, damai, dan tentram. Husnuzan lawannya adalah suuzan yang artinya berburuk sangka. Hal itu akan membuat kita selalu dalam kecurigaan dan tidak tenang.
 Berbaik dan berburuk sangka merupakan bisik jiwa yang dapat diwujudkan melalui perilaku yakni ucapan dan perbuatan. Perilaku husnuzan termasuk akhlak terpuji karena akan mendatangkan manfaat. Sedangkan perilaku suuzan termasuk akhlak tercela karena akan mendatangkan kerugian. Maka dari itu kita harus berbaik sangka kepada Allah SWT, sesama manusia, dan diri sendiri.
Sungguh tepat jika Allah SWT dan rasul-Nya melarang berperilaku buruk sangka. Sebagaimana yang tertulis dalam Q.S Al-Hujurat : 12.  
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”(Q.S Al-Hujarat : 12)
11.B. Contoh Perilaku Husnuzan
*     Husnuzan kepada Allah.
*     Husnuzan terhadap diri sendiri.
*     Husnuzan terhadap sesama.

*   Husnuzan kepada Allah terbagi atas 3 macam :
1.      Keagungan atau keindahan sifat-Nya.
2.      Kebaikan-Nya.
3.      Kedudukan-Nya.

*   Contoh Perilaku husnuzan kepada Allah :
*      Bersyukur.
*      Bersabar.

*   Contoh Perilaku husnuzan terhadap diri sendiri :
*      Percaya diri.
*      Gigih dalam menuntut ilmu dan bekerja yang halal.

*   Contoh perilaku husnuzan terhadap sesama :
*      Saling menghormati.
*      Saling tolong-menolong dalam kebaikan.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
*      Segala macam perilaku atau perbuatan baik yang tampak dalam kehidupan sehari-hari disebut akhlakul kharimah atau akhlakul mahmudah.
*      Akhlakul karimah (sifat-sifat terpuji) ini banyak macamnya, diantaranya adalah adil, ridho, rela berkorban, sabar, gigih, berinisiatif, tawadhu, taat, amal sholeh, tasamud, husnuzan, dan masi banyak lagi.
*      Salah satu perilaku atau tindakan yang mendasari akhlak kepada Pencipta adalah Taubat.
*      Allah menyukai orang-orang yang berperilaku terpuji, maka dari itu kita dituntut agar dapat terus berperilaku terpuji.
B.      Saran
*     Perilaku terpuji merupakan perilaku yang disukai Allah SWT, untuk dapat menjalankan perilaku terpuji kita harus lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan ikhlas menjalaninya semata-mata karena Allah SWT. Siapa mereka yang mengingikan hidup bahagia dunia-akhirat harus bisa berperilaku terpuji.


DAFTAR PUSTAKA

*   Al-Qu’an.
*   Buku Pendidikan Agama Islam penerbit Erlangga, penulis Syamsuri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

share my posting !!